Sastra Inggris, Why?!

Siapa yang bingung kuliah sastra itu ngapain aja sih ? 

Teman mimin akan berbagi cerita nih gimana pengalamannya selama kuliah di sastra Inggris

Cekidot!!

Ketika kalian mendengar kata sastra, what’s on your mind? Yap! For the first time, aku juga pernah merasa jika masuk ke Sastra Inggris adalah kesalahan. Aku berpikir bahwa Bahasa Inggris sangat mudah dipelajari di mana pun, kapan pun. Terlebih lagi, banyak sekali bimbingan belajar Bahasa Inggris hingga detik ini. Pertanyaan itu ada hingga aku menginjak semester empat. Pertanyaan yang akhirnya kujawab sendiri dengan proses berjalannya waktu.

Hai, sebelumnya, let me introduce my self to you! I am Awan. Aku lulusan Sastra Inggris di salah satu kampus negeri di Surabaya. Hanya dengan bermodal beasiswa atas kerja sama antara sekolah SMA dan kampusku, aku melenggang dengan leluasa ke universitas tersebut. Aku masih ingat, banyak sekali dari teman-teman yang berpikir bahwa menjadi dokter akan lebih baik daripada sastrawan. Namun kecintaan terhadap sastra, membuatku mantab memilih Sastra Inggris kala itu. Kupikir, dengan belajar Bahasa Inggris, aku mampu menjadi pribadi yang lebih open-minded dan mudah menerima sesuatu yang baru. Namun nyatanya, banyak sekali teman-teman kala itu mempertanyakan, mengapa harus Sastra Inggris? Mengapa tidak yang lebih pasti, Pendidikan Bahasa Inggris mungkin yang dididik menjadi guru atau bahkan jurusan Ilmu Komunikasi, yang notabene sangat favorit?

Trust me, aku pun galau saat semester pertama. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul. Nanti bakal ke mana? Bakal kerja jadi apa? Sedangkan ladang pekerjaan dengan embel-embel ‘sastra’ itu sendiri pasti jarang sekali! It happened to me until when I was at fourth semester. Hingga semester empat, aku masih kelimpungan dengan banyaknya pertanyaan yang tidak sadar, they killed my self. I tried many activities outside of class, such as paduan suara, jadi ketua himaprodi, anything, long as I felt happy. Aku berpikir, at last, jika jurusanku tidak bisa menyelamatkanku, daftar aktivitaslah yang akan menyelamatkanku. Dengan banyak seminar yang kuharidi, ekstrakurikuler luar kampus yang kumasuki, aku menjadi pribadi yang sedikit (not that much) terbuka. Aku mampu menemukan jawaban atas segala pertanyaanku hingga saat ini.

Di samping ekstrakurikuler dan seminar, aku pun bekerja paruh waktu. Jangan berpikir bahwa kerja paruh waktu dan kuliah, ditambah lagi dengan ekstrakurikuler dan seminar yang bejibun, bakal membuat nilaimu stay cool and on track! NO. IT IS BIG NO! Namun, aku merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda. Like what I said, I love literature dan ketika aku memilih Sastra Inggris, aku pun dalam keadaan sadar, no drugs anymore. LOL! Dan ketika kita masuk ke dalam jurusan yang kita suka, seburuk apa pun keadaan kita, sebanyak apa pun masalah kita, at least, nilai kita tidak akan pernah SANGAT MENGECEWAKAN. You know what I mean, right? Karena apa? Tentu karena kita do what we love and automatically, we love what we do!

Pasti dari kalian yang baca bakal tanya, emang apa bedanya dengan Pendidikan Bahasa Inggris? Okay, I will detail too you some. Di Sastra Inggris, kalian akan berhadapan selalu dengan novel, puisi, dan anything what bookaholics love. I love reading. No, grammars, no rules! But not too far from them for sure. Di Sastra Inggris, kalian akan banyak menghabiskan waktu menganalisis. You go, Nerds! Analisis sudut pandang, analisis perilaku dari tokoh, hingga historical backgrounds. Di Sastra Inggris, kalian akan free-access to be what you want to be. Namanya juga anak sastra, pasti prinsip ‘semau gue’ harus tetap ada. But thanks, God! Am still on the right tracks. Dan yang paling asyik ketika kalian belajar Sastra Inggris adalah kalian akan belajar dari mana kata itu berasal, let me give one example, ketika temen-temen di pendidikan belum mengenal bahwa kata ‘together’ adalah paduan dari kata ‘togaedere’ from English and West Germanic dan ditambahkan ‘gether’ (asli English), I did first! Sebelum temen-temen Pendidikan Bahasa Inggris mengenal kata wanna, betcha, oughta, kinda, until anything you read right now, I used first! Was I cool, huh?! LOL! And one more time, kesempatan untuk student exchange pun BIASANYA terbuka lebih luas.

Dan jika kalian berpikir bahwa prospek kerja Sastra Inggris hanya di lingkup menjadi penerjemah atau jadi guru Bahasa Inggris, sorry, you are too old-minded! I could be everything what I want to be, specifically to be an author. I have worked with my idol-author and published three books with her and three books independently. I had worked as a supervisor of quality control while finishing my book at that time. I am fluent to speak with the tourists and befriend with them till now. Anything, long as I get happiness.

Mungkin kalian akan bertanya, but today is global era. People are fluent to speak and write English very well. Apalagi banyak banget aplikasi Bahasa Inggris yang bisa free-download? Well, I have to say to you guys, what makes you good is not the applications, but it is the value inside of you. Test is just a test, not your value. Pesan itu yang aku bawa hingga detik ini. Don’t be narrow-minded individuals, jadilah orang yang bisa expand your own capacity, be a BETTER VERSION of yourself! Susah, pasti. Tapi, yakinlah bahwa tidak ada usaha yang menghianati hasil.

And, I think I am too much in writing this article, then I close this. One message for you guys, do everything what makes you happy as long as it is still on the right tracks! What makes you success is just your self and your perspectives, not your major! Good luck and have fun.

Kontributor Lulusnegeri,

Rizal Kurniawan

Kategori: